Cuaca masih mendung, jam 07.00 pagi masih serasa jam 06.59 (beda dikit dong)
Jam 08.00 tepat kita sudah berada di pertigaan Tugu Narkoba, titik poin menuju jalan tol yang belum jadi. Saat akan masuk gerbang, terdengar raungan sekitar 10 buah motorcross yang akan masuk ke area yang sama. Ternyata mereka mau cross country juga.
Setelah berfoto sejenak, akhirnya kita memasuki area yang dituju, jalanan murni tanah merah basah. 1 km pertama masih datar, saat masuk ke sebuah underpass, kondisi medan cukup sulit, karena tidak ada jalan yang tembus, orang jalannya aja baru mau dibikin, akhirnya kita tembus melalui jalan setapak, bener-bener jalan setapak dengan lebar kurang lebih 20 cm dan jurang 8 meter disebelah kiri-kanan jalan...
Sepeda rasanya berat, karena tanah sudah memenuhi ban depan, belakang dan selalu menyangkut di didudukan rem. Ban jadi seperti donat. Bedanya kalo donat bisa dimakan, kalo yang ini kagak...
Dijalan kita bertemu dengan kendaraan-kendaraan kelas berat, seperti back hoe, truk-truk pengangkut beton, dan ada juga truk yang sedang berusaha lolos dari cengkraman lumpur alias selip (berasal dari kata slippery yang berarti licin, ingat album Bon Jovi, Slippery When Wet – Licin Ketika Basah).
Akhirnya, setelah ber cross country, bergulat dengan lumpur, sampai juga di Sentul Selatan. Dari jauh terlihat masjid-nya Arifin Ilham dengan indahnya, dengan sungai yang masih jernih dibawahnya. Disana terdapat perumahan Bukit Azzikra, sebuah perumahan islami yang diprakasai oleh Ustad Arifin Ilham. Selain ada masjid, juga direncanakan hotel yang berkonsep syariah, Islamic center, pondok pesantren, dan sport center. Semuanya diatur dengan konsep syariah. Kehidupan modern, kesibukan, dan rutinitas sering kali membuat orang abai dan lalai pada nilai-nilai agama. Sekarang ada kecenderungan masyarakat modern ingin kembali pada kehidupan bernilai-nilai agama yang sebelumnya kurang diperhatikan. Salah satu cara untuk mengembalikan dan menghadirkan kembali hal itu bisa dilakukan lewat komunitas di kawasan hunian.
Konsep lingkungan tempat tinggal yang Islami adalah jawabannya. Inilah yang sejak dua tahun lalu dikonsep oleh Ustaz Arifin Ilham, pengasuh dan pimpinan Majelis Zikir Az Zikra. Bersama sejumlah aktivis lainnya, Arifin Ilham membuat konsep sebuah hunian yang didesain secara Islami, baik arsitekturnya maupun lingkungan kehidupannya. Di dalamnya terdapat simbol-simbol keislaman sekaligus tata pergaulan dan kehidupan yang Islami.
Jam 10.00 kita sudah sampai di tujuan. 2 jam waktu yang cukup lama melewati jalur dengan jarak 3,7 kilometer. Itu menunjukkan betapa beratnya medan yang dilalui.
Kita pulang melewati perumahan Grand Sentul City yang sedang dibangun. Sempat berinteraksi dengan para pekerja disana, eh ternyata masih sekampung dengan Pak Otta. Ti Bandung oge euy..
Kita mencoba nakal saat memasuki area Jalan Tol Jagorawi. Kita mencoba jalur baru dengan memasuki jalur hijau jalan tol. Bener-bener jalur hijau karena kita bersepeda di rumput-rumput pinggir jalan tol. Melihat jalan tol yang macet (jalan tol kok macet ya..) , melihat orang-orang yang heran dengan keberadaan kita disana.
”KEPADA YANG SEDANG BERSEPEDA DI JALAN TOLL !!!” sebuah mobil PJR lewat dengan pengeras suara memperingati. Tanpa ba-bi-bu lagi kita segera mencari jalan yang aman untuk menghindar dari petugas tadi. Kalo ketangkep, urusannya bisa panjang.
Setelah keluar dari jalan tol, kita masuk jalan kampung dan akhirnya keluar di Tanah Baru. Sampai akhirnya tiba waktunya berwisata kuliner. Kali ini kita mencoba Baso Gulung di Jalan Palayu Bantarjati. Rasanya lumayan lah, sempet dibekel buat anak dan isteri di rumah. Setelah kenyang akhirnya kita lanjut menuju arah pulang, melewati Perumahan Indraprasta, Warung Jambu, Jalan Baru, Taman Yasmin dan akhirnya sampai di Griya Melati. Tidak lupa sebelumnya mencuci sepeda yang sudah ga karuan akibat bergulat dengan lumpur.





0 komentar:
Poskan Komentar