Kali ini kami akan mengadakan perjalanan ke Puncak, Jawa Barat. Dari Bogor dan beberapa teman dari Jakarta sudah janjian ketemuan di Rumah Makan Sederhana Gadog jam 6 pagi. Dari sana sepeda kami angkut dengan menggunakan angkot menuju Rindu Alam. Satu angkot cukup untuk 5 sepeda, tentu saja harus dipreteli terlebih dahulu. Carter angkot tidak lebih dari Rp 75.000,- Jika Anda pandai menawar dan bisa bahasa sunda bisa Rp 50.000,-
Jam 6.30 kita sudah sampai di Warung Mang Ade. Sebuah warung kopi titik kumpul para goweser. Disini kita bisa menemukan berbagai sticker dari berbagai komunitas sepeda. Sepertinya jika tidak ada sticker yang menempel disini rasanya belum afdol mengaku sebagai Bikers :)
Siap-siap di depan warung Mang Ade (Rindu Alam)
Jam 7 tepat perjalanan dimulai. Menuruni bukit berbatu, melewati portal perkebunan. Biasanya kami memberi uang sekedarnya untuk perawatan trek. Trek disini termasuk kategori XC Light yaitu Cross Country yang cukup ringan, maka seorang newbie (pemula) dapat menjajal trek ini. Trek disini cukup lengkap, mulai dari turunan dan tanjakan terjal, trek kering-basah, jalan tanah, kerikil, batu, aspal, semua ada. Ditambah dengan pemandangan yang menakjubkan dan udara yang fantastis plus kabut, trek manalagi yang bisa menyaingi? Sampai saat ini, trek ini merupakan trek favorit saya.
Diantara kebun teh Gunung Mas
Menikmati puncak dari sisi yang berbeda
Melintasi jalan tanah
Melewati sungai
Menyusuri bukit-bukit kebun teh, liukan-liukan kecil, jalan kerikil dan akhirnya sampai di tempat Paralayang. Dilanjut ke Gunung Mas melalui jalur-jalur kecil yang dilewati air sungai yang meluap, jalan licin menghadang, perlu ekstra waspada melewatinya. Sampai Gunung Mas kemudian dilanjut ke Taman Safari, kali ini didominasi trek aspal. Selanjutnya, inilah tantangan sesungguhnya: Ngehe-1, jalur tanjakan kombinasi semen-kerikil-batu lepas sepanjang kurang lebih 2 km. Banyak bikers yang menggunakan "caddy" untuk membantu menuntun/mendorong sepedanya.
Tanjakan Ngehe dengan medan bebatuan lepas
Menelusuri jalan setapak
Udara dingin menerpa
Beberapa bikers tetep genjot pakai sepeda. Akhirnya finish juga dengan susah payah. Masuk ke Ngehe-2, trek makin terasa berat. Trek full tanah liat plus sempitnya jalur. Ditambah waswas takut diserang tawon. Jalur sudah tidak bisa digowes. Sepeda terpaksa dituntun kurang lebih 1 km+. Setelah habis2an. akhirnya sampai juga di tempat tujuan yaitu PondokNgehe-2. Kita istirahat sambil makan siang. Setelah selesai, perjalanan kembali dilanjutkan, ternyata tantangan belum selesai, malah semakin gila. Hujan mulai turun. Kabut semakin tebal dan jarak pandang sangat terbatas. Jalur masuk hutan, kemudian melalui jalan-jalan kecil penuh ilalang, turunan terjal dan licin. Disini rem diuji. Bagi yang pake v-brake silahkan menderita. Sepatu rem habis, tangan juga pegel. Banyak yang terpeleset, jatuh dan jumpalitan. Termasuk saya sampe jatuh 3 kali. Pertama: menghindari tabrakan beruntun, Kedua: mata kelilipan lumpur dan ketiga: rem udah blong! Disinilah kita baru mengerti, kenapa sepeda mahal diciptakan. Disinilah gunanya rem cakram, rem hidrolik, protector dan helm.

menembus kabut, menyusuri tebing
Setelah berjibaku dengan medan yang gila-gilaan, akhirnya, sampai juga diujung jalan aspal yang menghubungkan dengan jalan menuju Gadog. Dari sini jalan turun, mulus, sesekali ada tanjakan, dan dalam waktu 15 menit sudah sampai di RM Sederhana. Selesai juga petualangan hari ini.
Tiba di tujuan : Pondok Ngehe 2